FAKTOR KEPRILAKUAN ORGANISASI DALAM IMPLEMENTASI SISTEM AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH

SISTEM AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH

(Studi Empiris pada Pemerintah Kabupaten dan Kota di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta)

ABSTRACT

This study examines the role conflict and organizational factors in Government Financial Accounting System (Sistem Akuntansi Keuangan Daerah) implementation. It is argued that attention to organitational factor enhance cognitif conflict that is then conflict associeted with successful Government Financial Accounting System implementation, specifically the usefulness of Government Financial Accounting System for transparancy, eficiency and accountability. Lack of attention to these factors generates affective conflict that is associated with less successful implementation.

Data were collected from 138 officers of local government in Central Java and Yogyakarta province. The data then analyzed using Path Analysis with AMOS 4.01 software.

Result of an empirical study of 138 respondens indicated that organitational factor such as top support have a significant positive influence on Government Financial Accounting System implementation. However, it shows that organizational factors such training and clarity objective does not have a significant positive influence on Government Financial Accounting System implementation. We also find attention to organitational factor enhance cognitive conflict and afective conflict that is then conflict associated with successful Government Financial Accounting System implementation does not have significant associations.

Keywords : organizational factors (training, clarity of objective and management support), the role conflict (cognitive conflict and affective conflict) and Government Financial Accounting System implementation.

TELAAH TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Social Cognitive Theory (SCT)

Social Cognitive Theory (SCT) menjelaskan fungsi psychososial dalam tiga hal yang berhubungan timbal balik yaitu perilaku, faktor personal yang meliputi (kognitif, afektif dan biological events) serta lingkungan eksternal.

Sikap seseorang dalam merespon suatu inovasi seperti diimplementasikannya Sistem Akuntansi Keuangan Daerah berbeda-beda.Hal ini dipengaruhi oleh lingkungan di dalam organisasi dan faktor personal yang meliputi afektif dan kognitif. Faktor lingkungan organisasi dapat mempengaruhi jalannya implementasi Sistem Akuntansi Keuangan Daerah yang baru diimplementasikan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kesuksesan implementasi tersebut. Faktor lingkungan organisasi yang akan dibahas dalam penelitian ini meliputi pelatihan, kejelasan tujuan serta dukungan atasan.

Implementasi Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD)

Pemerintah Daerah selaku pengelola dana publik harus mampu menyediakan informasi keuangan yang diperlukan secara akurat, relevan, tepat waktu, dan dapat dipercaya. Sesuai ketentuan peraturan perundangan yang telah ditetapkan, pemerintah daerah berkewajiban untuk membuat Laporan Pertanggung Jawaban Keuangan yang terdiri dari Laporan Perhitungan Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Nota Perhitungan Anggaran.Maka Pemerintah Daerah dituntut memiliki sistem informasi yang andal.Sistem ini diperlukan untuk memenuhi kewajiban pemerintah daerah dalam membuat Laporan Pertanggung Jawaban Keuangan daerah yang bersangkutan (Tim Pokja, 2001).

Dalam rangka memantapkan otonomi daerah dan desentralisasi, Pemerintah Daerah hendaknya sudah mulai memikirkan investasi untuk pengembangan sistem informasi akuntansi (Sri Dewi Wahyundaru, 2001).Oleh karena itu diperlukan sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah yang baru untuk menggantikan sistem lama yang selama ini digunakan oleh Pemerintah Daerah yaitu Manual Administrasi Keuangan Daerah (MAKUDA) yang telah diterapkan sejak 1981.Sistem MAKUDA tersebut sudah tidak dapat lagi mendukung kebutuhan pemerintah untuk menghasilkan laporan keuangan yang diperlukan saat ini.

Hubungan antara faktor organisasional dan kegunaan sistem akuntansi keuangan daerah (SAKD)

Selain faktor teknis, beberapa penelitian menunjukkan bukti empiris bahwa faktor organisasional seperti pelatihan, kejelasan tujuan serta dukungan atasan, berpengaruh positif terhadap implementasi suatu inovasi sistem maupun perubahan model akuntansi manajemen (Krumweide, 1998). Shield (1995) berpendapat bahwa pelatihan dalam desain, implementasi dan penggunaan suatu inovasi seperti adanya sistem baru memberikan kesempatan bagi organisasi untuk dapat mengartikulasihubungan antara implementasi sistem baru tersebut dengan tujuan organisasi serta menyediakan suatu sarana bagi pengguna untuk dapat mengerti, menerima dan merasa nyaman dari perasaan tertekan atau perasaan khawatir dalam proses implementasi.

Kejelasan tujuan dapat menentukan suatu keberhasilan sistem karena individu dengan suatu kejelasan tujuan, target yang jelas dan paham bagaimana mencapai tujuan, mereka dapat melaksanakan tugas dengan ketrampilan dan kompetensi yang dimiliki.Dukungan atasan juga berpengaruh dalam mendukung suksesnya implementasi sistem baru.Menurut Shield (1995) dukungan manajemen puncak (atasan) dalam suatu inovasi sangat penting dikarenakan adanya kekuasaan manajer terkait dengan sumber daya.Manajer (atasan) dapat fokus terhadap sumber daya yang diperlukan, tujuan dan inisiatif strategi yang direncanakan apabila manajer (atasan) mendukung sepenuhnya dalam implementasi.

Chenhall (2004) dalam penelitiannya tentang peran kognitif dan afektif dalam implementasi ABCM menunjukkan bahwa faktor perilaku selama implementasi sangat berpengaruh signifikan terhadap kegunaan ABCM pada perusahaan.Hal ini menunjukkan bahwa dalam pengimplementasian sistem baru, perlu dipertimbangkan faktor-faktor organisasional seperti komitmen dari sumber daya yang terlibat, dukungan atasan, kejelasan tujuan dan pelatihan. Dari beberapa penelitian tersebut dapat dijadikan dasar untuk membangun hipotesis sebagai berikut:

H1a : Pelatihan berhubungan positif dengan kegunaan SAKD

H1b : Kejelasan tujuan berhubungan positif dengan kegunaan SAKD.

H1c :. Dukungan atasan berhubungan positif dengan kegunaan SKAD

Hubungan Faktor Organisasional dalam Implementasi dengan Konflik Kognitif dan Afektif

Penelitian ini menggunakan tiga dimensi faktor organisasional dalam implementasi yang akan diuji meliputi dukungan atasan, kejelasan tujuan dan pelatihan. Memaksimalkan konflik kognitif dan meminimalkan konflik afektif selama implementasi dapat dilakukan apabila terjadi beberapa kondisi berikut ini: (1) terdapat keanekaragaman kemampuan dan orientasi; (2) didukung oleh suatu komitmen; (3) dibangun hubungan yang baik dalam tim untuk bekerjasama setiap waktu (Amason 1996 dalam Chenhall 2004). Perhatian terhadap faktor organisasional dapat mengembangkan kondisi ketiga hal tersebut sehingga akan meningkatkan konflik kognitif dan meminimalkan konflik afektif.

Chenhall (2004) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa pelatihan dan kejelasan tujuan mempengaruhi konflik kognitif sedangkan dukungan manajemen puncak tidak berpengaruh signifikan.Sedangkan tidak ada satupun faktor perilaku yang berpengaruh untuk meminimalkan konflik afektif.Penelitian tersebut diuji dalam implementasi ABCM.Hipotesis yang dikembangkan:

H2a : Pelatihan berhubungan positif dengan konflik kognitif

H2b : Kejelasan tujuan berhubungan positif dengan konflik kognitif

H2c : Dukungan atasan berhubungan positif dengan konflik kognitif

H3a: Pelatihan berhubungan negatif dengan konflik afektif.

H3b: Kejelasan tujuan berhubungan negatif dengan konflik afektif

H3c: Dukungan atasan berhubungan negatif dengan konflik afektif

Konflik Kognitif dan Kegunaan SAKD

Konflik kognitif dapat bermanfaat untuk memecahkan masalah dan mendorong ke arah perbaikan pengambilan keputusan. Manfaat yang dapat diperoleh dari konflik kognitif berasal dari potensinya untuk meyediakan kesempatan untuk interaksi dengan dialectically style, berdebat, mempertahankan argumen yang dimiliki melawan argumen lain dalam organisasi (Mitroff dan Emshoff, 1979; Janis, 1982; Schweiger dan Sandberg, 1989 dalam Chenhall, 2004). Penelitian terdahulu mengenai konflik kognitif telah dilakukan oleh Chenhall (2004) dengan kesimpulan bahwa ada hubungan positif antara konflik kognitif dengan kegunaan ABCM. Oleh karena itu dikembangkan hipotesis sebagai berikut:

H4 : Konflik kognitif berhubungan positif dengan kegunaan SAKD.

Konflik Afektif dan Kegunaan SAKD

Konflik afektif cenderung melibatkan persepsi yang mengancam posisi seseorang di dalam suatu kelompok, pertikaian, frustasi dan friksi antara pribadi seseorang dengan nilai dan norma yang ada (Petersen, 1983; Ross, 1989 dan Amason, 1996 dalam Chenhall, 2004). Konsekuensi yang tidak diinginkan dari konflik afektif di antaranya memperlambat komunikasi dan proses kognitif, mengurangi kekohesifan kelompok dalam menerima ide baru, dan usaha saling menjatuhkan di antara para manajer (Robbins, 1989 dan Pelled, 1996). Beberapa kasus yang terdapat dalam penelitian Chenhall (2004) mengenai implementasi ABCM, konflik afektif ini berpotensi dapat mengurangi kegunaan ABCM untuk perencanaan produk dan manajemen biaya. Hipotesis penelitian sebagai berikut:

H5 : Konflik afektif berhubungan negatif dengan kegunaan SAKD.

Hubungan antara faktor organisasional, Konflik Afektif dan Kriteria Hasil dalam meningkatkan kegunaan SAKD

Apabila dalam implementasi SAKD memperhatikan faktor organisasional seperti dukungan atasan, kejelasan tujuan dan pelatihan diharapkan akan dapat memaksimalkan konflik kognitif dan konflik afektif sehingga diharapkan dapat

menghasilkan hasil yang diharapkan yaitu pengelolaan keuangan yang transparan, ekonomis, efisien, efektif dan akuntabel. Hipotesis yang akan diuji adalah:

H6: Faktor organisasional seperti pelatihan, kejelasan tujuan dan dukungan atasan dapat meningkatkan konflik kognitif yang pada gilirannya akan meningkatkan kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah.

H7: Faktor organisasional seperti pelatihan, kejelasan tujuan dan dukungan atasan dapat menurunkan konflik afektif yang pada gilirannya akan meningkatkan kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah.

Kerangka Pemikiran Teoritis

Kerangka pemikiran teoritis yang menjelaskan hubungan antara faktor-faktor perilaku dalam implementasi (pelatihan, kejelasan tujuan dan dukungan manajemen puncak) dengan variabel intervening kognitif dan afektif konflik akan meningkatkan kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah yaitu meliputi transparansi dan akuntabilitas dapat digambarkan sebagai berikut:

Faktor-faktor Organisasional dalam Implementasi Sistem Akuntasi Keuangan Daerah

Variabel faktor organisasional dalam implementasi sistem ada tiga aspek, meliputi dukungan atasan, kejelasan tujuan, dan pelatihan.Dukungan atasan diartikan sebagai keterlibatan manajer dalam kemajuan proyek dan menyediakan sumber daya yang diperlukan.Kejelasan tujuan didefinisikan sebagai kejelasan dari sasaran dan tujuan digunakannya Sistem Akuntansi Keuangan Daerah di semua level organisasi.Sedangkan pelatihan merupakan suatu usaha pengarahan dan pelatihan untuk meningkatkan pemahaman mengenai sistem (Chenhall, 2004).

Faktor-faktor organisasional dalam implementasi Sistem Akuntasi Keuangan Daerah diukur dengan menggunakan 9 item instrumen yang dibangun oleh Shield dan Young (1989) dan Shield (1995) yang telah dimodifikasi. Skor dari item dari 1= tidak ada hingga 5= sangat tinggi.

Review

ABSTRAK

Penelitian ini mengujikonflik perandan faktororganisasi dalam Pemerintahan Sistem Akuntansi Keuangan (Akuntansi Keuangan Daerah Telkomnika) implementasi.Dikatakanbahwa perhatian terhadap faktor organitational meningkatkan konflik kognitif yang kemudian konflik associeted dengan sukses Pemerintah Keuangan implementasi Sistem Akuntansi, khususnya kegunaan Pemerintah Sistem Akuntansi Keuangan untuk transparansi, efisiensidan akuntabilitas. Kurangnya perhatian terhadap faktor-faktor ini menghasilkan konflik afektif yang berhubungan denganpelaksanaankurang berhasil.

Data dikumpulkan dari 138 pejabat pemerintah daerah di Jawa Tengah dan DIY. Data kemudian dianalisis menggunakan Path Analysis dengan software AMOS4.01.
Hasilstudi empiris dari 138 responden menunjukkan bahwa faktor organitational seperti dukungan atas memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap implementasi Sistem Akuntansi Keuangan Pemerintah. Namun, hal itu menunjukkan bahwa faktor organisasi pelatihan tersebut dan tujuan kejelasan tidak memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap implementasi Sistem Akuntansi Keuangan Pemerintah. Kita juga menemukan memperhatikan faktor organitational meningkatkan konflik kognitif dan afektif konflik yang kemudian konflik yang terkait dengan pelaksanaan Pemerintah sukses Sistem Akuntansi Keuangan tidak memiliki hubungan yang signifikan.

Kata kunci: faktor organisasi(pelatihan, kejelasan tujuandan dukunganmanajemen), konflikperan(konflik kognitif dan konflikafektif) dan implementasiSistemAkuntansiKeuangan Pemerintah.

THEORY AND HYPOTHESES DEVELOPMENT REVIEW

Social Cognitive Theory (SCT)

Social Cognitive Theory ( SCT ) explainedin three   relating there ciprocal behavior, whichincludespersonal factors(cognitive, affective and biological events) as well as the external environment. One’s attitudein response toan innovationsuch asRegionsFinancial Accounting System implementation varies. It isinfluenced by the environmentin the organizationand personal factorsthat include eaffectiveand cognitive. Organization alenvironmental factor smay influence the course of   Financial Accounting System implementation of the new areathat will ultimatelyaffect thesuccess oftheimplementation. Organizationalenvironmental factorsthatare discussedin this studyinclude training, clarity ofpurpose andsupervisorsuppor.

The relationship between organizational factors and the usefulness of financial accounting system area (SAKD) In addition to technical factors, several studies have shown empirical evidence that organizational factors such as training, clarity of purpose and supervisor support, positive effect on the implementation of an innovation system as well as changes in management accounting model (Krumweide, 1998). Shield (1995) argues that training in the design, implementation and use of an innovation as the new system provides an opportunity for organizations to be able to articulate the relationship between the implementation of the new system with the goals of the organization as well as providing a means for users to be able to understand, accept and feel comfortable from feeling depressed or feeling concerned in the implementation process. Clarity of purpose to determine a system’s success as an individual with a clarity of purpose, clear targets and understand how to achieve the goal, they can carry out the task with skill and competency. Supervisor support was also influential in supporting the successful implementation of the new system. By Shield (1995) top management support (boss) in a very important innovation because of the power associated with the resource manager. Manager (boss) can focus the necessary resources, objectives and initiatives planned strategy where the manager (supervisor) fully support the implementation. Chenhall (2004) in his research on the role of cognitive and affective in ABCM implementation suggests that behavioral factors for the implementation of a very significant effect on the usefulness of ABCM on the company. This suggests that in the implementation of the new system, to consider factors such as the commitment of organizational resources involved, supervisor support, clarity of goals and training. Of some of these studies can be used as the basis for establishing the following hypotheses:

H1a: Training is positively related to usability SAKD

H1b: Clarity of purpose SAKD positively related to usability.

H1c:. Supervisor support was positively related to usability SKAD

Relations Organizational Factors in the Implementation of the Cognitive and Affective Conflict

This study uses three dimensions of organizational factors in the implementation to be tested include supervisor support, clarity of goals and training. Maximizing cognitive conflict and minimize affective conflict during implementation can be done in case of the following conditions: (1) there is a diversity of skills and orientation, (2) is supported by a commitment, (3) built a good relationship within the team to work every time (Amason Chenhall 1996 in 2004). Attention to organizational factors can be developed so that all three conditions will improve cognitive conflict and minimize affective conflict.

Chenhall (2004) in his research shows that training and clarity of purpose affect cognitive conflict while top management support had no significant effect. While no single factor influencing behavior to minimize affective conflict. The study tested the ABCM implementation. The hypothesis was developed:

H2a: Training is positively related to cognitive conflict

H2b: clarity of purpose positively related to cognitive conflict

H2C: Support supervisor was positively related to cognitive conflict

H3a: Training negatively related to affective conflict.

H3b: Clarity of purpose is negatively related to affective conflict

H3c: Support supervisor is negatively related to affective conflict

Cognitive Conflict and Usability SAKD

Cognitive conflict can be useful to solve the problem and lead to improved decision-making. Benefits to be gained from cognitive conflict comes from its potential for providing an opportunity for interaction with style dialectically, argue, defend arguments held against another argument in the organization (Mitroff and Emshoff, 1979; Janis, 1982; Schweiger and Sandberg, 1989 in Chenhall, 2004 ). Past research on cognitive conflict has been done by Chenhall (2004) with the conclusion that there is a positive relationship between cognitive conflict with usability ABCM. Therefore developed the following hypothesis:

H4: Cognitive Conflict SAKD positively related to usability.

Cognitive Conflict and Usability SAKD.

Cognitive conflict can be useful to solve the problem and lead to improved decision-making. Benefits to be gained from cognitive conflict comes from its potential for providing an opportunity for interaction with style dialectically, argue, defend arguments held against another argument in the organization (Mitroff and Emshoff, 1979; Janis, 1982; Schweiger and Sandberg, 1989 in Chenhall, 2004 ). Past research on cognitive conflict has been done by Chenhall (2004) with the conclusion that there is a positive relationship between cognitive conflict with usability ABCM. Therefore developed the following hypothesis:

H4: Cognitive Conflict SAKD positively related to usability. Affective conflict and Usability SAKD

Affective conflict tends to involve the perception that threatens a person’s position within a group, conflict, frustration and friction between one’s personal values and norms that exist (Petersen, 1983; Ross, 1989 and Amason, 1996 in Chenhall, 2004). Unintended consequences of conflict among affective and cognitive processes slow down communication, reduces group cohesiveness in accepting new ideas, and dropped another effort among managers (Robbins, 1989 and Pelled, 1996). Some of the cases included in the study Chenhall (2004) on the implementation of ABCM, affective conflict has the potential to reduce the usefulness of ABCM for product planning and cost management. Research hypothesis as follows:

H5: The conflict is negatively related to affective SAKD usability.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s