MEMBIMBING REMAJA

Image

1. Prinsip-Prinsip Umum

Seperti telah disebutkan di atas, masa remaja merupakan masa di mana seorang anak belajar menjadi dewasa. Dewasa berarti dapat berdiri sendiri, bukan secara fisik, tetapi lebih mempunyai arti emosional, misalnya mempunyai pendapat-pendapat sendiri dan dapat mengambil keputusan sendiri. Selama masa anak-anak mereka bergantung pada orang tua dan orang dewasa lain, dan untuk melepaskan diri dari keterikatan tersebut diperlukan usaha yang besar pada awalnya. Hal ini dapat diumpamakan seperti memisahkan dua buah magnet yang saling menempel. Seringkali usaha remaja tersebut makin diperbesar dengan sikap orang tua/orang dewasa yang merasa anak-anak mereka masih ingusan dan masih seperti dulu. Orang tua masih ingin mengatur dan sulit mengerti bahwa anak-anak tersebut berusaha menjadi seorang individu. Remaja berusaha untuk bertingkah laku seperti orang dewasa dan ingin disebut dewasa. Salah satu hal yang dapat membuat remaja marah adalah sebutan anak kecil. Dengan segala usaha tersebut tampaknya remaja selalu menghindar atau menentang orang tua/orang dewasa. Mereka sering mengkritik dan seringkali timbul pertentangan-pertentangan di rumah/sekolah. Dibalik penampilan remaja yang tampaknya sulit didekati, sebenarnya hati kecil mereka menginginkan perhatian, kasih dan bimbingan dari orang tua/orang dewasa. Mereka belum dapat terlepas sama sekali dari ketergantungan pada orang tua, dan masih memerlukan pemenuhan emosional dari orang tua. Banyak remaja yang ingin bisa bercakap-cakap dengan orang tua mereka, tetapi banyak hambatan yang menghalangi. Sebagian hambatan-hambatan tersebut berasal dari orang tua/orang dewasa sendiri.

Bimbingan yang diperlukan dan diinginkan oleh remaja bukanlah berupa ide-ide yang dipaksakan atau perintah/nasihat satu arah, tetapi bimbingan yang mengarahkan mereka, sehingga mereka bebas memilih dengan cara mereka sendiri. Remaja tidak puas dengan peraturan-peraturan yang bersifat memaksa, tanpa penjelasan yang dapat mereka terima. Remaja akan memberontak bila dihadapkan dengan pemaksaan.

Untuk membuka pintu komunikasi dengan remaja, orang tua dan orang-orang dewasa lain perlu mempraktekkan kasih yang tidak bersyarat, yaitu kasih yang tidak tergantung pada penampilan, kemampuan, tingkah laku dan apapun yang ada pada diri remaja tersebut. Pada dasarnya ini adalah kasih ilahi (agape) (Ul 7:7-8; Rm 5:8). Tuhan mengasihi kita bukan berdasarkan kualitas-kualitas positif yang kita miliki, tetapi walaupun kita berdosa dan tidak pantas untuk dikasihi, Tuhan tetap menerima kita. Kasih ini bukan berarti bahwa kita menyetujui semua tindakan orang yang kita kasihi, tetapi kita mengasihi dia karena dia adalah manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Kita mengasihi dia karena Tuhan mengasihi dia dan mati untuk dia juga. Kasih ini tidak memaksa orang yang dikasihi untuk berubah, tetapi percaya juga bahwa ia dapat berubah. Kasih inilah yang harus kita berikan kepada orang lain, khususnya dalam hal ini remaja-remaja kita. Dengan mempraktekkan kasih tak bersyarat ini remaja juga akan lebih mengerti tentang kasih Allah.

Sayangnya, kasih semacam ini sudah semakin langka, bahkan dalam keluarga dan lembaga-lembaga Kristen. Orang tua lebih menyayangi anak-anak yang sifatnya menyenangkan, guru sayang kepada murid-murid yang pintar dan baik. Mungkin di gereja juga demikian. Bagaimana dengan anak-anak yang nakal? Karena mereka dapat merasakan bahwa mereka tidak dikasihi, maka tindakan mereka semakin negatif, yang membuat orang lain makin membenci mereka, dan demikian seterusnya, menjadi lingkaran setan yang tidak ada habis-habisnya. Siapakah yang dapat memutuskan lingkaran setan ini, kalau bukan Tuhan sendiri? Memang manusia tidak mempunyai kekuatan untuk mengasihi, tetapi dengan doa dan anugerah Tuhan, Ia akan memampukan. Sebenarnya tingkah laku anak dan remaja sebagian adalah refleksi dari perlakuan orang tua dan orang-orang lain terhadapnya. Anak yang dikasihi lebih mudah untuk mengasihi dan bertingkah laku baik. Sebaliknya, anak-anak yang diperlakukan tidak baik cenderung memantulkan kembali perlakuan tersebut dalam tingkah lakunya. Pernyataan di atas pada umumnya benar, walaupun ada faktor-faktor lain, seperti dosa dan pembawaan anak itu sendiri.

Kasih tak bersyarat dapat dipraktekkan dengan sikap, tindakan dan kata-kata yang dapat diartikan sebagai penerimaan, misalnya sikap dan ekspresi wajah yang ramah, tidak menjauhi, mau mengerti dan mendengarkan ucapan-ucapan mereka, tidak membandingkan dengan orang lain, kata-kata yang memberi dorongan dan bukan hanya komentar-komentar negatif, kritik dan lain-lain. Bila ada tindakan remaja yang kita pandang salah, janganlah langsung menghakimi, memarahi, menyalahkan atau memberi nasihat panjang lebar. Umumnya remaja tidak dapat menerima perlakuan demikian. Hasilnya bukanlah akibat positif seperti yang kita harapkan, tetapi sebaliknya remaja merasa diperlakukan tidak adil dan menentang, baik secara terus terang atau sembunyi-sembunyi. Remaja yang tidak berani mengungkapkan ketidaksetujuannya secara langsung dapat melakukan tindakan-tindakan yang negatif untuk menyatakan kemarahannya. Tindakan menghakimi juga akan menutup mata komunikasi dengan remaja. Remaja yang merasa disalahkan mungkin tidak mau lagi berbicara atau menghindar dan tidak akan percaya lagi kepada kita untuk membicarakan masalah-masalahnya. Sebaiknya, mintalah remaja tersebut bercerita dari sudut pandangnya sendiri. Berusahalah untuk memahami remaja tersebut, dan cobalah untuk mengerti dia dari posisinya.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, remaja membutuhkan bimbingan yang mengarahkan. Orang tua/orang dewasa dapat membantu remaja untuk memperoleh pengertian yang ia tentukan sendiri (insight). Caranya adalah dengan banyak bertanya atau berdiskusi, bukan sekedar memberi tahu. Sebenarnya remaja juga memiliki prinsip-prinsip, norma-norma dan pemikiran-pemikiran yang baik. Orang dewasa mungkin akan heran bila mendengar pendapat-pendapat mereka yang luar biasa, hanya sayangnya banyak orang tua/orang dewasa yang tidak mempunyai waktu untuk mendengarkan mereka. Bila membimbing remaja, orang dewasa dapat menggali unsur-unsur yang positif pada remaja, mengajak mereka untuk berpikir luas dan mengasah kepekaan mereka. Kita dapat mengajukan fakta-fakta, nasihat yang positif lalu tanyakan pendapat mereka, ajak mereka melihat suatu masalah dari sudut orang lain. Biarkan mereka mengungkapkan pendapat tentang segi-segi positif dan negatif dalam suatu pemecahan masalah. Beri kesempatan remaja untuk mengambil kesimpulan dan keputusannya sendiri. Dengan pengarahan yang kita lakukan — tentu disertai doa — penulis yakin bahwa remaja tersebut dapat mengambil keputusan yang benar. Setidaknya kita telah menyerahkannya kepada Tuhan untuk bekerja lebih lanjut.

2. Saran Untuk Orang Tua

Ketika Tuhan membentuk keluarga, tentu Tuhan mempunyai maksud tertentu. Salah satu tugas orang tua yang penting adalah mendidik anak-anak yang telah dipercayakan kepada mereka, untuk menjadi manusia yang dewasa secara rohani maupun mental (Ul 4:9, 11,19; Ef 6:4), menjadi dewasa bukan berarti besar dan sehat secara fisik saja. Banyak orang tua yang sudah merasa puas bila sudah membesarkan anak-anak mereka, mencukupi dengan materi dan menyekolahkan mereka di sekolah yang bergengsi. Memang hal-hal ini bisa langsung kelihatan, tetapi justru membina yang tidak kelihatan itu yang sulit. Anak-anak bukan tanaman yang hanya perlu di siram untuk menjadi besar. Untuk mendapatkan pohon yang baik pun butuh banyak waktu dan perhatian: perlu disiangi, diberi pupuk, di semprot insektisida, dan lain-lain. Apalagi mendidik anak-anak! Untuk membesarkan anak-anak butuh waktu dan perhatian khusus, perlu banyak pengorbanan kepentingan orang tua. Membesarkan anak harus menjadi prioritas orang tua, dan tidak dapat dianggap sebagai selingan saja. Apa artinya bila kita memiliki segala sesuatu yang kita inginkan, tetapi kehidupan anak-anak kita kacau? Seperti harta yang sangat berharga, anak-anak membutuhkan penanganan yang tepat.

Orang tua adalah orang-orang yang paling berarti (significant person) bagi remaja. Ayah dan ibu adalah orang-orang yang paling berpengaruh dalam kehidupan seorang anak. Walaupun remaja dikelilingi oleh pengaruh-pengaruh dari luar, seperti teman-teman, sekolah, televisi, internet dan lain-lain, pada kenyataannya orang tua dan keluarga tetap mempunyai pengaruh yang paling besar. Pola asuhan orang tua terhadap anak dan pola interaksi anggota keluarga membentuk pola tingkah laku anak yang membentuk kepribadiannya. Remaja yang hubungan dengan orang tuanya baik dan mendapat pendidikan yang baik di rumah, biasanya tidak mudah terbawa pengaruh negatif lingkungan. Kedudukan yang istimewa ini memberikan keuntungan kepada orang tua sekaligus tanggung jawab yang besar.

Penulis ingin menekankan peran seorang ayah. Biasanya pengasuhan anak diserahkan kepada ibu, dan ayah mengkonsentrasikan diri pada pencarian nafkah. Sebenarnya peran ayah cukup besar, terutama untuk anak laki-laki. Melalui identifikasi dengan ayahnya, anak laki-laki belajar bagaimana menjadi seorang pria. Tanpa kehadiran seorang ayah, anak laki-laki akan mengalami kesulitan. Peran ayah ini dilanjutkan ketika anak-anak meningkat dewasa, bahkan remaja putri pun memerlukan ayahnya untuk belajar bagaimana berinteraksi dengan lawan jenisnya.

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s