KURIKULUM 2013 : KESIAPAN GURU DALAM MENGUKUR MUTU PENDIDIKAN

Oleh :

Meilisa Tria Ardina

A210090128

Abstraks

Makalah ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran apakah dengan Kurikulum 2013 ini, peran serta guru yang berkualitas yang disertai dengan pembinaan guru, yang dipersiapkan untuk melaksanakan dan menjalankan program  yang sesuai dengan  standar dan tujuan Kurikulum 2013 akan memenuhi harapan masyarakat Indonesia dan dapat berperan besar dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.

  1. Pendahuluan

Tahun ini, akan diterapkan kurikulum baru oleh Kementerian Pendidikan Nasional disebut sebagai Kurikulum 2013. Kurikulum 2013 tersebut merupakan revisi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mulai diberlakukan pada2006 silam. Kurikulum ini yang akan lebih diarahkan ke penanaman karakter pada peserta didik. Kurikulum baru ini akan diberlakukan mulai tahun ajaran 2013/2014 ini akan menyasar dari tingkat pendidikan dasar sampai jenjang pendidikan tinggi.

Menilik sejarah penggunaan kurikulum pendidikan, Indonesia sudah banyak menguji coba berbagai kurikulum pendidikan. Silih berganti kurikulum itu, tentu saja dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satu yang paling penting adalah untuk peningkatan peserta didik. Kurang lebih sejak Indonesia merdeka, sudah sembilan kurikulum pendidikan yang digunakan di Indonesia, yang terakhir adalah KTSP yang menggantikan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang umumnya tidak terlalu panjang, kurang lebih dua tahun, bahkan tidak disahkan oleh Menteri Pendidikan Nasional, karena masih tahap uji coba, dan dirasakan tidak memuaskan.

Jika diliat dari segi subtansi, Kurikulum 2013 ini merupakan penyempurnaan dai KTSP. Namanya saja penyempurnaan, tentu saja ada hal-hal yang kurang yang telah dievaluasi secara menyeluruh, sehingga penerapan kurikulum 2013 menjadi sangat penting dilakukan. Hasil evaluasi itu bahkan sudah diutarakan oleh Kemendiknas yang mempertimbangkan empat aspek standar pendidikan dalam proses evaluasi: standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, dan standar evaluasi. Bahwa kurikulum 2013 ini akan ditanamkan penddikan karakter yang kuat di tingkat pendidikan dasar, tentu saja merupakan terobosan yang sangat baik. Dan bahwa semakin naik tingkat pendidikan, penanaman karakter akan dikurangi dan digantikan dengan pelajaran keilmuan ini merupakan langkah yang tak kalah menariknya. Karakter memang harus ditanamkan sejak awal, yaitu sejak pendidikan dasar. Hal itu seiring dengan merosotnya nilai-nilai berkehidupan saat ini, apalagi nilai keluhuran dan integritas. Olehnya, peserta didik sejak mula harus ditananmkan nilai-nilai itu agar benar-benar terpatri dalam relung ingatannya, bahwa keluhuran dan integritas tidak saja menjadikannya menjadi manusia terhormat, namun dapat menjadikannya benar-benar menjadi manusia yang sesuai dengan kodrat dan fitrahnya.

  1. Pembahasan

Yang ramai diperbincangkan dimedia massa terkait perubahan kurikulum adalah pengurangan mata pelajaran dan penambahan jam belajar. Secara mendasar, ada emapt elemen perubahan dalam Kurikulum 2013, yakni Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi (kompetensi inti dan kompetensi dasar), Standar Proses, dan Standar Penilaian. Dan empat standar itu yang akan dijadikan pedoman oleh guru dalam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Pertama, standar kompetensi lulusan tentunya terkait dengan kualitas lulusan yang akan dihasilkan oleh satuan pendidikan. Lulusan yang dihasilkan harus benar-benar mumpuni dan sesuai dengan hal yang diinginkan. Jangan sampai ada lulusan pada tingkat satuan tertentu yang kompetensinya tidak terpenuhi dengan baik. Standar apa yang harus dipenuhi saat peserta didik menyelesaikan pendidikan dasar, standar apa pula yang harus dipenuhi saat merampungkan pendidikan di tingkat SMP, dan begitu pula dengan standar yang harus dipenuhi di tingkat SMA, sehingga jelas arah dan tujuan pendidikan di Indonesia ini.

Kedua, standar isi dalam kurikulum pendidikan harus benar-benar disempurkan. Adanya keterukuran itu membuat kurikulum 2013 ini memiliki landasan pijak yang kuat, kuatnya landasan pijak itu akan berpengaruh pada aspek sebelumnya, yaitu menghaslkan lulusan yang kompetitif dan inovatif. Hal ini tentu saja menjadi harapan kita semua untuk menghasilkan pesrta didik Yng mampu bersaing dan mampu berkompetisi di tengah derasnya arus globalisasi saat ini.

Ketiga, standar proses juga perlu diperbaiki dan disempurnakan. Standar ini memegang peranan penting untuk menghasilkan kualitas lulusan yang menjadi tujuan utama. Untuk memperkuat penerapan standar isi, diperlukan suatu proses yang kuatdan terarah. Guru sebagai pendidik harus bias mengarahkan dan menjadi fasilitator yang baik bagi pesrta didik.

Keempat, standar evaluasi merupakan faktor yang juga tidak kalah penting. Standar ini, jika diterapkan dengan baik, dapat mengukur kualitas peserta didik secara berkala. Kelak tidak ada lagi peserta didik yang nilainya didongkrak oleh guru, bahkan tidak ada lagi guru yang salah dalam member penilaian.

Pergantian kurikulum tentu saja berdampak pada kesiapan tenaga pendidik sebagai pelaksana utama kurikulum tersebut. Guru tidak bias lagi sekedar beceramah sepanjang waktu di depan kelas. Pada kurikulum ini, pola pembelajaran yang diharapkan adalah pembelajaran berbasis peserta didik atau student central learning (SCL). Pola SCL tersebut, menjadikan guru bersifat sebagai fasilitator pada proses pembelajaran, dan bukan sebagai sumber utama atau actor utama sebuah proses pembelajran. Sebagai fasilitator, guru harus cerdas dalam meramu pelajaran dan membangkitkan raasa keingintahuan peserta didik. Selanjutnya, guru bias mengarahkan peserta didik untuuk aktif dalam berdiskusi dan menjadikan dirinya sendiri (peserta didik) dan teman-temanya sebagai sumber belajar. Sangat baik dan tentu saja dapat menjadikan peserta didik lebih mandiri dalam berinteraksi dan berinovasi untuk memunculkan suatu penemuan-penemuan baru.

Guru merupakan Garda Depan bagi proses pembelajaran dan pendidikan. Dialah yang akan menentukan apakah pendidikan Indonesia berhasil atau tidak. Sebagai Garda Depan, sesungguhnya para guru telah memperoleh penghargaan sebagai guru profesional, yaitu guru yang telah memperoleh pengakuan sebagai pekerja profesional, sebagaimana dokter, ahli teknik, ahli hukum dan sebagainya. Sebagai pekerja profesional yang diakui oleh undang-undang, maka status guru tentu sangat dihormati. Tidak  hanya dari segi pendapatannya, akan tetapi juga dari sisi penghargaan yang layak. Jika dulu para guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa disebabkan oleh kurangnya penghargaan terhadapnya, maka sekarang tentu tidak bisa lagi disebut dengan sebutan tersebut. Peningkatan mutu guru yang dijanjikan pemerintah untuk mulai diperbaiki dan ditingkatkan dengan memanfaatkan hasil pemetaan dari uji kompetensi guru, direduksi hanya sebatas pelatihan guru untuk menerapkan Kurikulum 2013. Para guru justru tidak dipacu untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi karena semua materi disiapkan melalui buku pegangan guru yang dibuat satu jenis untuk seluruh Indonesia.

Guru sebagai fasilitator juga tidak boleh lagi bersifat diktator, atau ibaratnya titah guru adalah kebenaran mutlak. Guru harus bisa menerima koreksi atau pun masukan dari peserta didik. Dan hal itu diharapkan bisa diterapkan dengan sempurna, baik di depan kelas maupun dalam interaksi lainnya dengan peserta didik, yang tentu saja terkait dengan pendidikan. Intinya, guru harus bisa menyesuaikan dengan keadaan peserta didik dan menjadikan kelas sebagai tempat ternyaman bagi peserta didik dalam proses pembelajaran. Dan tidak lupa, guru harus benar-benar siap. Siap materi pembelajaran, mampu memahami pemanfaatan sumber belajar yang telah disiapkan dan sumber lain yang dapat mereka manfaatkan. Siap menciptakan suasana kelas yang nyaman. Siap membangkitkan inovasi peserta didik. Siap menanamkan karakter keilmuan bagi peserta didik. Siap menjadi fasilitator pembelajaran terbaik. Dan siap mengejewantahkan kurikulum 2013 dengan baik dan benar. Kurikulum pendidikan memang bukan merupakan sesuatu yang harus abadi, namun penanaman karakter dan nilai luhur yang dapat disalurkan merupakan kado terbaik bagi generasi kebanggaan negara ini.

Syawal Gultom, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidik dan Peningkatan Mutu Pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mengatakan pelatihan guru tidak semata untuk mampu melaksanakan Kurikulum 2013, sebab yang utama peningkatan kompetensi guru. Dengan demikian, guru siap memperbaiki pembelajaran apapun kurikulumnya. Terkait pelatihan guru untuk implementasi Kurikulum 2013, menurut Syawal, pelatihan yang dijalani guru berbeda dengan pelatihan selama ini. Para guru akan banyak dilatih untuk menerapkan metode pembelajaran yang baik hingga tahap simulasi sehingga siap langsung menerapkan di kelas, sambil didampingi guru inti. Dengan demikian, pelatihan yang dikemas untuk mengembangkan profesionalisme guru adalah jalan terbaik agar kurikulum 2013 akan bias mengantarkan anak Indonesia ke depan lebih baik atau tidak. Jadi, fungsi guru di dalam diskusi apapun tentang peningkatan pendidikan tetaplah menempati posisi  yang sangat penting. Tanpa guru yang baik dan berkualitas rasanya jangan pernah bermimpi bahwa pendidikan Indonesia akan naik peringkatnya di dalam ranking kualitas pendidikan di dunia.

  1. Kesimpulan

Dari hasil analisis diatas menunjukan bahwa untuk dapat mencapai tujuan seperti yang telah ditetapkan dalam kurikulum 2013, peran seorang guru amatlah sangat penting. Seseorang guru harus dapat melaksanaan standar-standar yang ada dalam kurikulum 2013, selain itu guru harus dapat juga mendapat pelatihan-pelatihan tentang kurikulum 2013. Sebuah kurikulum bagaimanapun baiknya tentu masih sangat tergantung kepada para guru. Oleh karena itu perubahan mindset para guru tentu menjadi sangat penting sebagai prasyarat keberhasilan implementasi kurikulum. Dengan demikian, keberhasilan penerapan kurikulum 2013 juga sangat tergantung kepada perubahan mindset para guru di dalam mendidik para siswa. Kurikulum sebagai dokumen adalah variable instrument keberhasilan pendidikan. Akan tetapi yang menjadi variable substansialnya adalah para guru. Guru yang berkualitaslah yang akan menentukan apakah pendidikan akan bias menjadi wahana bagi pengembangan kapasitas manusia atau tidak.

Sehingga tujuan dan implementasi Kurikulum 2013 untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia melalui peran guru yang berkualitas sesuai dengan standar yang telah ditetapkanakan dapat tercapai untuk menjadikan manusia Indonesia yang cerdas, berkualitas, berakhlak dan berilmu, sehingga manusia Indonesia dapat bersaing denagn bangsa-bangsa lain di dunia.

DAFTAR PUSTAKA

http://taqyuddin.blogspot.com/2013/04/artikel-mengejewantahkan-kurikulum-2013.html

http://edukasi.kompas.com/read/2012/12/05/13070730/Menyambut.Kurikulum.2013

Paparan Mendikbud Sosialisasi Kurikulum 2013, Bandung 16 Maret 2013.

http://kajianpsikologi.guru-indonesia.net/artikel_detail-42114.html

http://nursyam.sunan-ampel.ac.id/

kalau mau download silahkan klik link di bawah ini..

tugas seminar new

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s